Setelah meraih medali emas di Olimpiade 1960, petinju muda Muhammad Ali (saat itu bernama Cassius Clay) mengincar Juara Kelas Berat. Dengan ketenaran baru, keraguan, konflik keluarga, dan Amerika yang sarat gejolak politik, sang genius yang hanya ada sekali dalam satu generasi ini menyadari bahwa lawan utamanya bukan di ring, melainkan masyarakat yang belum siap menerimanya jadi diri sendiri.